Akhir –akhir ini Tanaman porang menjadi topik perbincanga yang hangat di kalangan petani indonesia. Badahal tanaman ini hampir tak dilirik untuk dibudidaya. Bahkan di beberapa daerah, porang sering dianggap sebagai tanaman pakanan ular Namun karna adanya minat pasar dari luar negeri Negara seperti jepang, korea Vietnam, cina dan Australia. Mampuh Menumbuhkan minat para petani yang ada di beberapa daerah seperti provinsi Sulawesi selatan khusunya Kab Luwu Utara.
Tanaman porang bagi sebagian besar petani di luwu utara masih di anggap sebatas tanaman sampingan. Badahal di beberapa daerah khusunya madiun tanaman ini sudah di budidayakan sejak tahun 1970-an. Tanaman ini di negaara tersebut di olah menjadi bahan baku kosmetik, obat-obatan, dan bahkan makanan. Sedangkan Di jepang sendiri porang lebih banyak di jadikan sebagai bahan makanan atau dalam Bahasa jepangnya Konnyaku
Harga Porang
Harga umbi porang segar mencapai Rp 4.000/kg. Lalu harga porang yang sudah diolah dan siap ekspor berkisar Rp 14.000/kg. Negara tujuan ekspornya antara lain Jepang, China, Australia, dan Vietnam. Badan Karantina Pertanian mencatat, pada tahun 2018 ekspor tepung porang mencapai 254 ton dengan nilai Rp 11,31 miliar. Sentra-sentra pengolahan umbi porang menjadi tepung saat ini tersebar di Bandung, Maros, Wonogiri, Madiun, dan Pasuruan. Dilansir dari Antara, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan Kementan tengah fokus mengembangkan tanaman porang karena memiliki pasar ekspor yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar